Kebusukan Wilders Bikin Muslim Belanda Muak
AMSTERDAM (Berita SuaraMedia) – Lebih dari separuh penduduk Belanda keturunan Turki dan Maroko mengatakan bahwa mereka sedang mempertimbangkan untuk pergi dari negara itu karena meningkatnya popularitas politisi anti Islam, Geert Wilders. Menurut hasil survey yang diumumkan pada hari Senin, sepertiga dari mereka mengatakan keinginannya untuk beremigrasi.
Program
televisi Netwerk menyelenggarakan survei tersebut sebagai respon atas
keberhasilan partai Wilders, Partai Kebebasan (PVV), dalam pemilu
parlemen Eropa baru-baru ini. Lembaga penelitian Motivaction
mewawancarai 319 orang Turki dan Maroko tentang perasaan mereka terhadap
negara Belanda secara umum dan khususnya Wilders. Mayoritas (70%)
Muslim Belanda adalah keturunan Turki atau Maroko.
Geert Wilders,
anggota parlemen Belanda, telah mengeluarkan pernyataan memuakkan yang
penuh kebencian dan mendorong diskriminasi dengan menyebut AL-Quran
sebagai sebuah buku fasis, membandingkannya dengan buku Hitler Mein
Kampf, dan mengobarkan kebencian dengan membuat film berjudul "Fitna".
Meskipun
tiga perempat orang Belanda keturunan Turki dan Maroko itu mengatakan
bahwa mereka telah menganggap Belanda sebagai rumahnya, 57% dari mereka
kini tidak lagi merasa nyaman setelah meningkatnya popularitas PVV.
Hampir tiga perempat dari mereka merasa bahwa Wilder telah
mengintesifkan sentimen negatif terhadap umat Muslim di antara
masyarakat Belanda.
Hampir 20% dari mereka setuju dengan Wilders dalam
beberapa poin dan dapat menghargai mengapa orang-orang memilihnya.
Namun, separuh dari responden juga berpendapat bahwa meningkatnya
dukungan kepada Wilders membuat mereka merasa marah dan kecewa, 22% lagi
mulai merasakan timbulnya rasa takut dan kebencian. Sembilan puluh
persen merasa pemerintahan Wilders akan mengalami kegagalan, dan hanya
4% yang berpendapat Wilders akan mampu memberikan solusi atas
persoalan-persoalan negara.
Survei
itu menanyakan pada para responden apa yang mereka anggap sebagai
strategi terbaik untuk melawan Wilders. Empat puluh persen berpikir
bahwa kebijakan terbaik adalah dengan mengacuhkan PVV. Tiga puluh lima
persen memilih untuk melakukan debat dengan Wilders dan pendukungnya.
Dua puluh lima persen lebih menyukai aksi protes, dan 11% sisanya
menginginkan dibentuknya partai politik Muslim untuk mewakili suara
mereka.
Hasil
penemuan survei itu dibenarkan oleh konselor Belanda kelahiran Turki,
Hamit Karakus, di koran Senin de Volksrant. Karakus mengatakan bahwa
meskipun anaknya berbicara dalam bahasa Belanda, memahami budaya
Belanda, dan sangat terpelajar, mereka masih merasa tidak diterima dalam
masyarakat Belanda. "Mereka bertanya-tanya tentang masa depannya di
negara ini." Konselor itu meyakini bahwa popularitas PVV akan
menumbuhkan dukungan terhadap minoritas muslim radikal di Belanda.
(ri/nrc/iib) www.suaramedia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar