Takut Islam, Jerman Perangi Khotbah Online
BERLIN (Berita SuaraMedia) – Sebuah kontroversi di Jerman beberapa tahun lalu mengenai sebuah website yang dibiayai oleh pajak yang menampilkan hal-hal yang bermuatan Islam telah memudar dan para penyiar kini ingin tahu apakah spiritualitas Islami dibolehkan di radio Jerman. Sulit membayangkan suatu awal yang lebih hati-hati untuk membahas keyakinan Islam dalam siaran radio Jerman.
Untuk
mendengarkan khotbah pendek, yang diluncurkan pada 2007, pendengar
harus mengunjungi sebuah website dan mengunduh file audio atau video
tentang topik-topik Islami, karena topik-topik tersebut tidak disiarkan
melalui siaran radio atau televisi sama sekali.
Khotbah
sepanjang lima menit itu dikeluarkan oleh perusahaan penyiaran
Suedwestrundfunk (SWR) tiap satu bulan sekali dan mengandung
bimbingan-bimbingan spiritual yang nonkontroversial dari panel yang
terdiri atas empat penulis Muslim, semuanya merupakan lulusan
universitas Jerman.
Mereka
menulis teks khotbah yang isinya diedit oleh staf penyiaran dan
kemudian dibacakan keras-keras oleh para penyiar profesional Jerman.
SWR mengatakan bahwa khotbah-khotbah itu diunduh lebih dari 50.000 kali tiap bulan.
Satu-satunya
konten lain yang ditujukan pada umat Muslim dalam siaran publik Jerman
adalah forum televisi nasional ZDF yang dimulai tahun 2007.
Forum
itu berisi video-video wawancara oleh jurnalis ZDF dengan sejumlah
intelektual Muslim mengenai berbagai topik, termasuk Islam politik.
Serial-serial ZDF umumnya tidak sependapat dengan pandangan kalangan konservatif relijius.
Video-video
ZDF yang berdurasi 10 menit itu tidak disiarkan secara langsung namun
harus ditonton melalui website ZDF, seperti halnya SWR.
Baik SWR maupun ZDF keduanya dibiayai oleh pajak televisi dan komputer pribadi.
Di
tahun 2007, banyak masyarakat Jerman yang menentang rencana penggunaan
uang pajak mereka ke Khotbah Jumat di SWR, sebuah radio keluarga dan
stasiun televisi di wilayah Stuttgart.
Sejumlah
warga nasrani memandangnya sebagai sebuah penghinaan terhadap keyakinan
mereka. Sedangkan kelompok Yahudi menuntut keistimewaan yang sama, dan
itu telah mereka dapatkan.
Dalam
sebuah seminar di bulan Juni yang meninjau ulang layanan khotbah online
itu, staf editorial mengakui bahwa mereka masih melangkah dengan sangat
hati-hati.
Seminar itu dipandu oleh seorang uskup Katolik dari Stuttgart, Gebhard Fuerst.
Pembenaran
uskup Fuerst terhadap khotbah online itu mungkin setengah mencerminkan
usulan terbaru dari petinggi Vatikan bahwa gereja Katolik dan Islam
harus bekerjasama dalam melawan tumbuhnya ateisme dn mempertahankan
hak-hak komunitas relijius.
Ia juga mengkritik pemerintah Jerman yang menyeleksi para penulis khotbah Islam.
Gereja Kristen memiliki kebebasan penuh dalam memilih pengkhotbahnya untuk acara serupa di radio.
Uskup Fuerst menyarankan SWR untuk mempelajari apakah umat Muslim benar-benar menyukai isi khotbah mereka.
"Tidak ada penilaian kualitatif mengenai pendapat para pendengar tentang mereka," ujarnya.
Itu
artinya terbuka terhadap pertanyaan apakah isi khotbahnya sesuai dengan
apa yang ada dalam pikiran empat juta orang penduduk Muslim Jerman.
Di
luar kritik-kritik itu, para akademisi yang menghadiri seminar itu
sepakat bahwa langkah pertama yang diambil SWR itu merupakan sesuatu
yang bagus.
Sebagian
besar dari 25 khotbah yang direkam sejauh ini menekankan bahwa Muslim
harus menjadi warga negara Jerman yang baik. Dalam khotbah terbaru
contohnya, Bekir Alboga dari masjid Turki menyatakan, "Agama kita
mewajibkan kita umat Muslim untuk menaati peraturan hukum dari negara di
mana kita tinggal."
Joerg
Imran Schroeter, pengajar studi Islam di Universitas Freiburg,
mengatakan bahwa program layanan itu sangat membantu menangkal sentimen
anti-Islam di Jerman.
Bernhard
Hermann, direktur radio di SWR, berkata dalam seminar, "Hal yang aneh
adalah kami merupakan satu-satunya perusahaan penyiaran publik di
kawasan yang menawarkan hal semacam ini."
Ketika
ditanya apakah ia dapat membayangkan para imam berkhotbah dengan
kata-katanya sendiri, tidak dengan menyerahkan teksnya untuk disaring
oleh editorial SWR, ia mengatakan bahwa hal itu hanya akan terwujud jika
Islam dimasukkan dalam konstitusi Jerman layaknya sebuah badan atau
organisasi, seperti gereja. (ri/et) www.suaramedia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar